Selasa, 14 Mei 2013

elearning


E- LEARNING

E-learning di Indonesia dimulai pada pertengahan sembilan puluhan dengan munculnya internet diawali dengan pengenalan teknologi informasi ke Indonesia pada akhir 70-an dan awal 80-an. Namun, mereka e-learning inisiator terpukul keras oleh krisis ekonomi dan politik yang melanda Indonesia pada 1997s sampai awal abad 21. Awal tahun 2000, banyak organisasi mengambil inisiatif untuk melakukan e-learning di lingkungan mereka, terlepas dari krisis ekonomi. Berdasarkan survei terhadap sekitar 60 situs e-learning, penulis menemukan beberapa kendala. Pertama, infrastruktur yang tidak mendukung pembelajaran. Dari 223 juta orang, hanya 20 juta sendiri fasilitas telepon tetap., Suatu keharusan-prasyarat untuk mengakses jarak jauh e-learning fasilitas. Menggunakan telepon selular untuk koneksi internet adalah keluar dari pertanyaan karena sangat mahal, di sisi lain pelanggan internet di Indonesia terbatas. Pada tahun 2004 terdapat 1,3 juta pelanggan internet dengan 14 juta pengguna. Kedua, manajemen konten. Meskipun sebagian besar e-learning operator adalah lembaga pendidikan tinggi, tidak ada standar dalam isi. Sementara isinya ditujukan untuk mahasiswa, isinya tidak selalu mencapai standar intelektual akademik. Ketiga, tidak ada koordinasi dalam melakukan e-learning.
Pra-dan pasca Soeharto presiden (1998) menandai paradigma dari sentralisasi menjadi desentralisasi administrasi universitas. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang dulunya regulator sekarang adalah fasilitator pada urusan pendidikan tinggi. Hasil bukanlah kekacauan, tetapi upaya terkoordinasi terhadap e-learning. Di universitas tertentu, setiap departemen mendirikan sendiri fasilitas e-learning tanpa mengganggu upaya departemen lain ', apalagi di di tingkat nasional. Keempat, faktor budaya. Indonesia pada umumnya lebih memilih berbicara melalui tulisan, hasil dari warisan tradisi lisan, lebih memilih menghadiri kuliah selama belajar mandiri. Oleh karena itu mahasiswa Indonesia lebih memilih untuk berkomunikasi atau berinteraksi langsung dengan siswa lain dan atau dosen selain untuk berkomunikasi dengan cara virtual sebagai umum ditemukan dalam e-learning. Apa yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah koordinasi yang lebih baik antara e-learning operator, grand strategi e-learning sebagai didikte oleh tingkat yang lebih tinggi dari pengambil keputusan dan keputusan e-learning bukan sebagai e-learning itu sendiri, tetapi sebagai alat untuk membekali siswa untuk tetap up to date, melek teknologi informasi dan untuk menjadi kompetitif, dengan cara yang fleksibel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar